CRY, PRAY AND ASK FORGIVENESS



 

Bismillah,

 

    CRY, PRAY AND ASK FORGIVENESS

 

Oleh : Nur Alam

 

Menangislah, shalatlah dan mohon ampunlah (Cry, pray and ask forgiveness). Semua perintah tersebut dapat ditemukan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Pertanyaannya kemudian, seberapa penting seorang Muslim harus meneteskan air matanya? Untuk apa dia harus menegakkan shalat lima waktu sehari semalam? Dan mengapa dia harus selalu memohon ampunan Allah? Jawabannya ada dalam firman Allah di bawah ini.

Firman Allah, “Maka biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka perbuat” (QS. 9:82).

Pada ayat yang lain, “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. 20:14).

Dan juga terdapat pada ayat lainnya, “Maka aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun”

(QS. 20:10).

Pertama, menangis merupakan hal yang sering kita jumpai, bahkan sering kita alami sendiri. Menangis adalah ekspresi seseorang yang menggambarkan suasana hatinya, bisa ekspresi kesedihan maupun kebahagiaan.

Kemudian, menangis yang bagaimana yang disukai oleh Allah dan memberikan manfaat kelak di akhirat? Tentu, menangis karena rindu Allah dan untuk-Nya semata. Rasulullah bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.''

Siapa mereka? Lanjut Rasulullah, “Salah satunya adalah seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sunyi dan tiba-tiba meneteskan air matanya.” Karena menangis dalam kesunyian lebih memungkinkan timbulnya keikhlasan dalam diri. Maka, hiasilah mata ini dengan tangisan mesra karena Allah. Tangisan yang akan membahagiakan di akhirat kelak.

Kedua, menegakkan shalat menjadi tolok ukur amal. Artinya bahwa kualitas amal seseorang sangat ditentukan oleh shalatnya, dan menjadi hal pertama yang akan dihisab kelak. Shalat merupakan perintah langsung dari Allah kepada Rasulullah ketika perjalanan Isra dan Mi’raj.

Shalat menjadi pembeda yang tegas, apakah seseorang itu Muslim atau Kafir. Seperti sabda beliau, “Perjanjian antara kami dengan mereka (orang Kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya, maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Senada dengan hadits tersebut, Umar bin Khattab dengan tegas menyatakan, “Tidak ada Islam bagi seseorang yang tidak menegakkan shalat”. Dan siapapun yang dalam hidupnya terasa sulit dan sempit, maka segera perbaiki shalatnya. Karena yang rusak itu bukan hidupnya, tapi shalatnya.

Dan yang terpenting adalah bahwa menegakkan shalat menjadi pengingat kita kepada Allah. Dengah banyak mengingat Allah, akan hadir ketenangan hati. Pesan Allah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. 13:28).

Ketiga, memohon ampunan (istighfar) kepada Allah, dengan mengucapkan do’a atau dzikir yang menunjukkan pengakuan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Harapannya, semoaga Allah memaafkan dan mengampuni dosa-dosa tersebut.

Di sisi lain, Iblis pernah sesumbar, “Dengan kemuliaan dan keagungan-Mu, aku tidak akan berhenti menggoda anak cucu Adam selama ruh mereka ada.” Rasulullah pun menjawab, “Dengan kemuliaan dan keagungan Allah, Dia tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Nya.” (HR. Ahmad).

Dalam beristighfar, harus dilakukan dengan rendah diri, tunduk, patuh, penuh harap dan cemas, serta penuh rasa sangat membutuhkan ampunan Allah. Selain itu, dengan kekhusyu’an hati dan jiwa yang sangat ‘berambisi’ untuk meraih rahmat Allah SWT.

Sebuah keteladanan dari Rasulullah, meski beliau sudah dijaga dari perbuatan dosa dan maksiat serta sudah dijamin meraih surga-Nya, beliau masih terus beristighfar kepada Allah sampai 70 kali sehari semalam. Kemudian, siapakah yang menjamin kita terhindar dari dosa dan maksiat, kemudian bisa masuk surga Allah?

Terakhir, kita meneteskan air mata, karena semata rindu kehadiran-Nya. Kita menegakkan shalat sehari semalam, karena semata ingin mengingat -Nya. Dan kita selalu memohon ampunan, karena semata ingin meraih surga-Nya.  

Simpulan

Menangis, menegakkan shalat dan beristighfar kepada Allah menjadi karakter ketaatan setiap Muslim dalam kesehariannya.  

Menangislah agar dadamu lapang, shalatlah agar hatimu kembali tenang dan beristighfarlah agar dosa-dosamu bisa dimaafkan.

Fastabiqul khairaat …..

------------------------------------------------------------------

Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 7 Sya’ban 1445 H./19 Januari 2024 M. Pukul 05.05 WIB.

 

Bagikan :