INSPIRATIONAL STRUGGLE



Bismillah,

 

           INSPIRATIONAL STRUGGLE 

 

Oleh : Nur Alam

Kisah sukses Rasulullah SAW. dalam mengemban misi risalahnya menjadi sebuah perjuangan inspiratif (Inspirational struggle) yang tak pernah kenal kadaluwarsa.

 

Lebih dari 14 abad silam, Rasulullah sudah berdakwah dalam sebuah masyarakat yang sedang mengalami tiga bentuk penjajahan sekaligus, yaitu disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial.

 

Ketiga bentuk perjuangan tersebut sangat menginspirasi bagi setiap Muslim di Indonesia, terutama ketika memaknai kemerdekaannya yang ke-78 ini secara lebih holistik dan integral. Banyak ‘ibrah atau ‘itibar (pelajaran) yang bisa dipetik sebagai bekal hidup ukhrawi (QS. 59:2).

 

Pertama, Disorientasi Hidup

sebuah potret masyarakat Arab Jahiliyah ketika itu yang menyembah patung berhala buatan tangan mereka sendiri. Rasulullah berjuang keras untuk meluruskan orientasi hidup mereka, yaitu hanya menyembah Allah Yang Maha Esa saja dan meninggalkan ‘tuhan-tuhan’ yang dapat menurunkan derajat manusia sendiri (QS. 31:13, QS. 12: 108, dan QS. 51:56).

 

Kedua, Penindasan Ekonomi

sebuah potret konglomerasi kekayaan yang hanya dikuasai oleh kelompok tertentu saja, dengan menindas golongan ekonomi lemah. Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung hartanya tanpa memedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS. 104:1-4 dan QS. 107:2-3).

 

Ketiga, Kezaliman Sosial

sebuah potret kehidupan masyarakat yang disekat-sekat oleh status sosialnya. Status kaya dan miskin, raja dan budak, terdidik dan bodoh, kulit hitam dan putih. Rasulullah mengajarkan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan kesederajatan semua bangsa di dunia. Dalam khutbah Wada’ beliau sampaikan, “Tidak ada celah yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketakwaan mereka kepada Allah saja.” (QS. 49:13).

 

Unfortunately, kenyataaannya di alam kemerdekaan hari ini, ketiga bentuk penjajahan di atas sedang marak dipraktikkan di tengah masyarakat modern yang hidupnya serba digital dan instant ini. Mereka menjadi penyembah harta dan dunia, penindas masyarakat lemah ekonomi dan berbangga diri dengan berbagai status sosialnya 

(QS. 45:23). 

 

Bentuk disorientasi hidup seorang Muslim di era klasik adalah taqlid, bid’ah dan churafat (TBC). Sedangkan di era digital ini adalah sekulerisme, pluralisme, liberalisme dan materialisme (Sepilism). Disorientasi hidup baik di era klasik maupun digital tersebut sangat-sangat ditentang oleh Islam. Islam hanya mengenal orientasi hidup Muslim dalam bingkai aqidah yang lurus (salimah), ibadah yang benar (shahihah) dan amal yang baik (shalih).

 

Ketika aqidah seseorang sudah menyimpang, maka ibadahnya tidak akan diterima. Begitu pula ibadah yang bercampur dengan syirik, akan merusak amal-amalnya. Inilah tugas terpenting dari dakwah para Rasul Allah untuk meluruskan aqidah umat dan beribadah hanya kepada Allah saja dengan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan (QS. 16:36).

 

Bentuk penindasan ekonomi adalah hadirnya konglomerasi hasil penggabungan dari beberapa konglomerat kakap untuk menghimpun konsentrasi kekayaan dari korporasinya dan menindas golongan ekonomi lemah lainnya yang bukan korporasinya.     

 

Teks Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang menasihati orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman untuk menghindari konsentrasi kekayaan untuk sekelompok orang saja. Kekayaan itu tidak boleh menjadi komoditi yang beredar di antara orang-orang kaya saja (QS. 59:7). 

 

Nabi Muhammad SAW. sangat terganggu oleh kondisi ini. Dan Allah pun menurunkan peringatan keras, “Celakalah bagi bagi menumpuk harta dan mengitung-hitungnya. orang-orang. Mereka mengira bahwa hartanya akan kekal. Sekali-kali tidak, pasti mereka akan dicampakkan ke dalam neraka khutamah” (QS. 104: 2-4).  

 

Bentuk kezaliman sosial adalah hadirnya stratifikasi sosial di masyarakat, yaitu kelas-kelas atau sekat-sekat sosial dalam masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa masih banyak di sekitar kita yang membeda-bedakan manusia menurut kelas sosialnya.

 

Dalam Al-Qur’an, tidak pernah ditemukan ajaran diskriminasi atau membedakan manusia karena status sosialnya. Ketaqwaanlah yang membedakan manusia di hadapan Allah. 

 

Rasulullah mengingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupamu maupun hartamu, namun Allah hanya melihat kepada hatimu dan Amalmu. (HR. Muslim).

 

Kesimpulan 

 

Islam hadir memberi solusi terbaik, dengan menginspirasi makna merdeka sesuai yang diperjuangkan Rasulullah lebih dari 14 abad silam, dan belum pernah kadaluwarsa.

 

Ketika tiga bentuk penjajahan di atas masih dipraktikkan dalam hidup setiap Muslim, maka sesungguhnya dia belum pernah merdeka di hadapan Allah dan Rasul-Nya. 

Fastabiqul khairat …

----------------------------------------------------------------

Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 1 Shafar 1445 H./18 Agustus 2023 M. Pukul 05.37 WIB.

Bagikan :