NO CURE EXCEPT HIS CURE



Bismillaah…,

 

NO CURE EXCEPT HIS CURE

 

 

Oleh : Nur Alam

 

Di akhir Februari atau di awal Maret 2022 ini, menjadi puncak kasus omicron yang bisa diprediksi menjadi 3 kali sampai 6 kali lebih tinggi daripada varian delta. Lonjakan kasus covid-19 varian omicron ini dapat menular lebih cepat dibandingkan varian delta.

Prediksi yang sangat ‘mengerikan’ itu disampaikan oleh Jubir pemerintah untuk penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito, dalam keterangan pers hari ini, Kamis (10/2). Artinya, negara tercinta kita, Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja.

Di sisi lain, mantan Menteri Kesehatan era SBY, Siti Fadilah Supari, menyambut gembira kedatangan varian omicron ini, karena menurutnya, ini menjadi pertanda pandemi akan segera berakhir dan covid-19 akan menjadi sakit flu biasa (IG/@siti_fadilah_supari).

Meski ada dua pendapat yang berbeda, sebagai Muslim kita harus yakin bahwa kesembuhan itu hanya milik Allah SWT. (No cure except His cure). Maka, ketika sakit yang harus dicari bukan hanya obat dan tenaga medis, tapi juga dekatilah Allah SWT. Yang Maha Menyembuhkan

(QS. 26:80).

Seraya berdo’a kepada-Nya dengan, ”Aku betul-betul mengalami penderitaan, dan Engkau adalah yang paling pengasih” (QS. 21:83). Atau “Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan.” (HR. Muslim).

Obat tidak lebih sebagai washilah (perantara) kesembuhan. Karena kesembuhan sesungguhnya hanya datang dari Allah. Pemahaman ini harus benar dan mantap, agar kita tidak terjerumus kepada perbuatan syirik, dengan pengkultusan kepada metode, obat, dokter, herbal, dan perantara lainnya.

Setelah berikhtiar yang syar’i dengan berobat ke dokter, minum obat, olah raga, istirahat yang cukup, kemudian harus pasrah total kepada Allah, dengan ridha, sabar, tidak berkeluh kesah, khusnudzan (berbaik sangka) dan syukur dengan segala keputusan Allah. In syaa Allah, akan membuahkan sikap optimistik dalam menghadapi semua ujian dari Allah. 

Berobat untuk kesembuhan harus dimaknai sebagai ibadah. Bukankah Allah tidak pernah menurunkan suatu penyakit kecuali dengan penawarnya? Bukankah Rasulullah SAW. sangat mendorong kita mencari obat ketika sakit? Bahkan, Allah  menurunkan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai syifa’, obat atau penawar (QS 17:82). 

Dalam Al-Qur’an terdapat tidak kurang dari 6 ayat disebutkan kata syifa’, obat atau penawar, Yaitu QS. 9:14, QS. 10:57, QS. 16:69, QS. 17:82, QS. 26:80 dan QS. 41:44. Ini menunjukkan bahwa kesembuhan hanya milik Allah (Asy-Syaafii').   

Kisah Nabi Ayyub As. ketika Allah hendak menghilangkan penyakitnya, Allah memerintahkannya agar menghantam kakinya, dan Nabi Ayyub As. melakukannya. Ketika itulah terpancar mata air sejuk untuknya, kemudian ia mandi dari air mata air tersebut, hilanglah semua penyakit yang ada di luar tubuhnya. Kemudian dia minum dari air mata air tersebut, hilanglah semua penyakit yang ada di dalam tubuhnya. Kisah ini terlukis indah dalam QS. 38:42. 

 

Simpulan

Kesembuhan adalah hak prerogatif Allah, salah satunya terdapat dalam Asmaa'ul Husna, As-Syaafii' (Zat yg Maha Menyembuhkan). Karenanya, seseorang dapat disembuhkan dari penyakitnya dengan berbagai macam kehendak Allah.  

Dia (Allah) menyembuhkan dengan tanam-tanaman, seperti terdapat dalam ramuan herbal. Dia (Allah) menyembuhkan dengan satu obat atau beberapa obat, melalui tangan para dokter dan tenaga medis. Dia (Allah) menyembuhkan dengan makanan dan air, seperti melalui para tabib atau perukyah syar’iyyah.  

Dia (Allah) menyembuhkan dengan keistiqamahan beribadah (shalat, do’a, dzikir, istighfar, taubat). Bahkan Allah akan menyembuhkan seseorang ketika dia sabar dan penuh syukur menerima penyakit yang diuji-Nya.  

والله اعلم بالصواب وفاستبقواالخيرات…  

----------------------------------------------------------

Kranggan Permai,

Jum’at Penuh Berkah,

10 Rajab 1443 H. /

11 Februari 2022 M.

Pukul 05.14 WIB. 

 

Bagikan :