TAKE IT OR LEAVE IT
Bismillaah,
TAKE IT OR LEAVE IT
Di manapun kita berada, sampai di sebuah masyarakat yang sangat primitif sekalipun, pasti ada aturan yang harus ditaati, baik berupa perintah atau larangan.
Sebuah analogi sederhana seperti ini. Seandainya ada seseorang menawarkan madu dan racun, mana yang harus dipilih? Manusia yang berakal sempurna, pastilah madu sebagai pilihannya. Bukan dipikir-pikir, atau dipertimbangkan, apalagi sampai dicoba-coba dahulu.
Sebagai seorang Muslim, ketika dihadapkan dengan pilihan, taat atau maksiat, maka tidak ada pilihan lain, kecuali memilih taat sebagai pilihan satu-satunya. Mengapa demikian? Karena hidup di dunia ini harus identik dengan taat untuk menuju akhirat.
Sebaliknya, jika hidup di dunia ini identik dengan maksiat untuk menuju akhirat, maka dapat dipastikan dalam aktivitasnya beribadah kepada Allah di dunia ini hanyalah main-main. Syahadatnya pura-pura. Shalatnya hanya guyonan. Zakatnya cuma riya’. Puasanya karena ikut-ikutan. Dan hajinya sekedar mengikuti trend kekinian saja.
Inilah yang Allah gambarkan dalam Al Qur’an, “Orang-orang yang tidak mengharapkan adanya perjumpaan dengan Kami, lalu merasa puas dengan kehidupan dunia, merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Tempat mereka adalah neraka sesuai dengan apa yang mereka lakukan.” (QS. 10:7).
Pada ayat yang lain, Allah tegaskan, “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah dia dalam keadaan itu, dan jika dia ditimpa suatu bencana, berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. 22:11).
Komitmen Islam sangat tegas, bahwa untuk ketaatan, maka kerjakan, dan untuk kemaksiatan, maka tinggalkan. Sehingga untuk menjadi seorang Muslim itu hanya memilih, kerjakan atau tinggalkan. Kalau ada perintah dikerjakan, itu pasti amal shaleh. Sebaliknya, kalau ada larangan dikerjakan, itu pasti amal salah (maksiat).
Taat adalah tanda kepatuhan. Sedangkan maksiat tanda pembangkangan. Kekinian, alih-alih memilih taat, malah dengan bangganya manusia asyik bermaksiat dan bergelimang dengan berbagai larangan Allah. Padahal, siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik.
Siapa yang meninggalkan tradisi syirik, maka Allah akan ganti dengan tauhid yang lurus. Siapa yang meninggalkan ibadah yang tidak ada tuntunannya, maka Allah akan memberikan cahaya sunnah untuknya. Siapa yang meninggalkan barang haram, transaksi ribawi dan profesi yang mengundang laknat Allah, maka Allah akan ganti dengan aktivitas yang lebih menenangkan hati.
Bagi orang yang taat, kehidupan dunia hanyalah satu episode dari perjalanan hidup yang panjang. Di balik itu, masih ada episode lanjutan, alam kubur dan akhirat. Namun, bagi orang yang maksiat, dunia seolah menjadi titik henti terakhir. Karenya, seluruh hidupnya dipertaruhkan hanya untuk mencari kepuasan atau popularitas diri.
Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa atau maksiat itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa atau maksiat itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.”
Lebih jauh, Ibnul Qayyim berkata, “Maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rejeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Dampak buruk dari maksiat akan menjadi racun, sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.”
Berikut dampak buruk dari maksiat. Pertama, ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut. Kedua, menghalangi datangnya rejeki, ”Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad).
Ketiga, merasa asing dalam pergaulan. Akibat maksiat dapat mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan circle yang dikenal sebagai orang-orang baik. Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka.
Akhirnya, taat itu berada tetap di jalan Allah, dan maksiat itu berada tetap di jalan setan. Setiap jalan menuju ketaatan, maka kerjakan. Dan setiap jalan menuju kemaksiatan, maka tinggalkan. (Take it, or leave it).
Simpulan
Jalan menuju ketaatan hanya ditempuh oleh orang-orang yang akan beruntung kelak di akhirat, meski berliku dan terjal.
Sedangkan jalan menuju kemaksiatan hanya dilakoni oleh orang-orang yang akan merugi kelak di akhirat, meski mulus tanpa rintangan.
Wallahu A’alam …
------------------------------------------------------------------
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 20 Rajab 1447 H./9 Januari 2026 M. Pukul 05.10 WIB.