021-88875365 0821-2224-1232 SPMB ONLINE TEST ONLINE PRESENSI
Hero

Sekolah Unggul dengan Layanan Berbasis Islam dan Internasional

Mencetak generasi berkarakter, berprestasi, dan bertaqwa.

Daftar Online SPMB

GOD’S SCENARIO

Jumat, 12 Des 2025 · Kategori: artikel · Kata kunci: banjir bencana
GOD’S SCENARIO

Bismillaah,


                    GOD’S SCENARIO


Di ruang publik kita, sedang masif cerita tentang alam yang meluluh-lantahkan jutaan rumah, pepohonan, jembatan, dan menimbun ribuan rakyat kecil tak berdosa.

Dalam kondisi seperti ini, banyak orang bertanya,“Mengapa musibah sebesar ini harus terjadi?.” Kemudian, “Di mana keadilan Allah ketika manusia begitu menderita?” 

Islam tidak memandang musibah sebagai peristiwa tanpa makna. Di balik bencana yang tak dimengerti, selalu ada hikmah besar yang hanya dapat dipahami dengan iman.    

Mengapa musibah ini terjadi? Allah menjawab dengan tegas, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. 30:41).

Ternyata banjir dan longsor ini akibat perbuatan tangan manusia. Ini bukan peristiwa alam biasa. Ada faktor anomali iklim siklon tropis Senyar yang mendapat energi dari laut hangat. Namun, faktor tangan manusia jauh lebih besar, termasuk yang menyebabkan perubahan iklim. 

Sekali-kali, langit tidak pernah menurunkan hujan kayu. Meski rezim ini berdalih gelondongan kayu yang ikut tersapu banjir sebagai ‘kayu lapuk.’  Padahal yang sedang terjadi deforestasi, pembalakan liar, alih fungsi hutan menjadi sawit, industri eksploratif, dan lemahnya pengawasan tata kelola hutan bertahun-tahun di negeri ini.

Alih-alih punya empati, seorang Kepala BNPB menyatakan, bahwa bencana banjir dan longsor di Sumatera hanya mencekam di media sosial. Faktanya, betapa mencekamnya situasi korban di tengah keterbatasan akses, ketiadaan makanan, listrik padam, dan komunikasi terputus. Meski masih ada yang bertahan, dengan minum air kotor dan makan dari sisa makanan di sekitar.

Lucunya, masih ada pejabat yang mabuk pencitraan. Dia memanggul karung beras ketika meninjau korban banjir di lokasi. Bantuan dalam situasi bencana bukanlah hadiah yang layak diucapkan terima kasih. Karena memang negara wajib hadir meringankan beban rakyatnya yang kesusahan, sebagai kontrak sosial yang menempatkan keselamatan warga di atas segalanya.

Memang pemerintah sudah turun tangan, meski masih terbatas. Termasuk kontribusi nyata dari partai politik belum signifikan, karena mereka lebih sibuk dengan urusan internalnya. Namun, di tengah hancurnya fisik dan mental para korban, ada energi sosial dari solidaritas rakyat biasa yang berempati, menghimpun donasi, yang hasilnya luar biasa. 

Di sisi lain, belajar dari kisah banjir besar zaman Nabi Nuh. Ternyata Allah tidak hanya mengirimkan air dari langit saja, tapi dari juga dari perut bumi, menyatu dan menjadi luapan air yang dahsyat. “Maka Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, berkumpullah semua air itu sehingga (meluap dan menimbulkan) bencana yang telah ditetapkan.” (QS. 54:11-12).

Adakah relate musibah banjir di zaman Nabi Nuh dan saat ini?. Ada benang merah yang tidak boleh diabaikan, yaitu kerusakan moral dan kerusakan lingkungan sering berjalan beriringan. Kedua-duanya berujung pada kehancuran, yaitu kehancuran moral dan kehancuran ekologis, dan keduanya merupakan bentuk penghianatan terhadap amanah Allah SWT.

Rasulullah SAW. sangat fokus pada pemeliharaan alam, melarang menebang pohon sembarangan, mencemari air, memerintahkan menanam pohon, meski kiamat hampir tiba. Bahkan beliau memuji orang-orang yang memelihara lingkungan. Ketika ajaran ekologis beliau tersebut dipraktekkan, maka kita menjadi para pemakmur bumi Allah.

Musibah banjir dan longsor bukan sekadar bencana alam, tapi juga panggilan lembut dari Allah agar kita berhenti sejenak, tadabbur, dan kembali menguatkan iman. Di balik kehilangan dan penderitaan ini, ada pahala besar yang menanti bagi siapapun yang sabar dan ridha. Maka, rasakan rahmat Allah yang sedang mengalir perlahan menuju hati orang-orang yang ikhlas menerima takdir ini.

Terakhir, bagi seorang Muslim, musibah bukan akhir dari segalanya. Ia adalah jalan penghapus dosa, jalan meninggikan derajat, jalan kembalinya manusia kepada Allah, dan jalan bangkitnya kepedulian serta ukhuwah umat manusia. Demikian skenario Allah (God’s scenario), yang harus kita tadabburi.


Simpulan


Bumi bukan milik kita, tapi titipan Allah untuk generasi kita ke depan. Ketika kita merawatnya, membawa berkah Allah. Ketika kita merusaknya, membawa murka Allah. Inilah skenario Allah untuk orang-orang yang memakmurkan bumi-Nya.

Wallahul Musta'an …

----------------------------------------------------------------

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 22 Jumadil Akhir 1447 H./12 Desember 2025 M. Pukul 05.00 WIB.

Whatsapp