021-88875365 0821-2224-1232 SPMB ONLINE TEST ONLINE PRESENSI
Hero

Sekolah Unggul dengan Layanan Berbasis Islam dan Internasional

Mencetak generasi berkarakter, berprestasi, dan bertaqwa.

Daftar Online SPMB

Jangan Dewakan Akal, Kokohkan Keyakinan.

Senin, 19 Jan 2026 · Kategori: artikel · Kata kunci: ISRA' MI'RAJ
Jangan Dewakan Akal, Kokohkan Keyakinan.

Ibnu Abbas berkata bahwa ketika mendengar berita perihal perjalanan isra' dan mi'raj nya Rasulullah SAW, ada 3 tanggapan manusia saat itu: ada yang bertepuk tangan melecehkan, ada yang memegang kepalanya pertanda ragu dan tidak percaya, dan hanya sebagian kecil yang membenarkannya. Diantara mereka yang mempercayai dan membenarkan berita itu adalah sahabat Abu Bakar, sehingga beliau digelari Ash-Shiddiq (orang yang membenarkan), karena tingkat kepercayaan dan pembenarannya kepada semua perkataan dan perbuatan Rasulullah saw tidak memerlukan bukti apa2, sebagai representasi level keimanan tertinggi atas kenabian beliau saw... 

Ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah saw menyatakan beliau telah diperjalankan dari Mekkah ke Masjidil Aqsha, maka orang2 pun mulai memperbincangkannya. Sebagian orang yang sebelumnya beriman dan membenarkannya berbalik menjadi murtad kembali. Mereka mendatangi Abu Bakar untuk memprovokasi beliau, dengan berkata: Apakah engkau mengetahui kalau temanmu Muhammad mengaku melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis? Abu Bakar yang baru mendengar kabar tersebut balik bertanya: Apakah ia mengatakan seperti itu?. Mereka pun mengiyakan. Abu Bakar kemudian berkata: Andai ia memang mengatakan seperti itu, sungguh ia benar! Mereka berkata lagi: Apakah engkau mempercayainya bahwa ia pergi semalaman ke Baitul Maqdis dan sudah kembali pada pagi harinya? Abu Bakar pun menjawab tegas: Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang...

Demikianlah seharusnya karakter keimanan seorang mukmin sejati: meendahulukan keimanan daripada logika dan akal sehat. Sebab keimanan itu bisa menjangkau sesuatu yang terkadang tidak terjangkau oleh logika dan akal. Ulama berkata bahwasanya kehidupan memang membutuhkan akal sehat, sebab sejatinya akal sehat tidak akan berseberangan dengan keimanan. Hanya terkadang tidak semua peristiwa dan fenomena dapat dijangkau dengan akal pada saat kejadiannya karena keterbatasan akal manusia. Tetapi karena akal manusia terus berkembang, maka banyak fenomena yang tidak terjangkau akal pada masa lalu baru terungkap kebenarannya secara logika pada masa2 setelahnya... 

Ada kisah Imam Al-Muzzani yang pernah dibentak Imam Syafi'i sehingga akhirnya ia menjadi ulama besar. Al-Muzzani pernah menanyakan kepada gurunya tersebut tentang hal2 yang lebih mengedepankan akal daripada keimanan. Imam Syafi'i berkata kepadanya: Apakah menurutmu setiap peristiwa di dalam kehidupan harus dapat dijelaskan dengan akal?. Lalu beliau menguji Al-Muzzani untuk menjawab 10 pertanyaan perihal fenomena alam yang tergolong sulit dijawab secara akal pada masa itu: Berapa jumlah bintang di langit, bintang diciptakan dari unsur apa, berapa jarak antara langit dan bumi, apa yang ada di balik langit, berapa tinggi langit, dari mana asal air laut, mengapa air laut asin, berapa kedalaman lautan, apa yang menopang bumi, bagaimana proses turunnya hujan? Alhasil Al-Muzzani hanya bisa menjawab 4 dari 10 pertanyaan tersebut  sehingga Imam Syafi'i pun membentaknya. Imam Syafi'i ingin mengajarkan kepada Al-Muzzani bahwa jika terhadap hal2 yang kasat mata di alam semesta saja tidak sepenuhnya bisa dijangkau oleh akal manusia, bagaimana mungkin kita menolak perkara ghaib hanya karena tidak masuk akal... 

Begitulah seharusnya: keimanan harus didahulukan daripada logika, sehingga akal lah yang harus menyesuaikan apa yang diimani oleh hati. Karena terkadang kepada sesama manusia saja kita masih sering terkendala untuk saling memahami kartika ada perbedaan latar belakang keilmuan, apalagi untuk memahami semua ilmu Allah yang Maha Luas. Ulama berkata: Ketetapan Allah itu bersifat mutlak/absolut  sedangkan akal itu bertumbuh karena ilmu manusia itu selalu berproses dan berkembang, sehingga akal lah yang harus menyesuaikan, bukan sebaliknya. Sehingga banyak dijumpai fenomena alam yang tidak terjangkau pada masa lalu, baru kemudian diketahui rahasianya secara keilmuan manusia pada masa sekarang; dan berapa banyak sunnah dan hadits Rasulullah saw yang baru terbukti kebenarannya setelah melewati masa berabad2 kemudian... 

Maka jadilah mukmin sejati yang menggunakan akal sehat untuk memperkokoh keimanan, bukan sebaliknya mendewakan akal sehat untuk menggerogoti keimanan...

Penulis; Ujang Sriwijaya 

Kuwaiss 17, Kota Bekasi

Whatsapp