021-88875365 0821-2224-1232 SPMB ONLINE TEST ONLINE PRESENSI
Hero

Sekolah Unggul dengan Layanan Berbasis Islam dan Internasional

Mencetak generasi berkarakter, berprestasi, dan bertaqwa.

Daftar Online SPMB

AN ENLIGHTENING DAY

Jumat, 20 Mar 2026 · Kategori: artikel · Kata kunci: lebaran, idul fitri, hari suci
AN ENLIGHTENING DAY

Bismillaah,


              AN ENLIGHTENING DAY


Setiap kita yang merasakan indahnya pertemuan, pasti ia akan merasakan pedihnya perpisahan. Begitulah kondisi kita, ketika akan melepaskan Ramadhan yang mulia ini.

Hari ini, tamu yang kita tunggu-tunggu kehadirannya, akan meninggalkan kita. Rasa sedih dan khawatir menyelimuti kita. Sedih, apakah kita masih dipertemukan lagi?. Khawatir, apakah amaliah Ramadhan kita diterima, atau ditolak?.

Ibnu Rajab berkata, “Para salafus shaleh, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal dan bersungguh-sungguh ketika mengerjakannya. Setelah itu, mereka sangat berharap amalan tersebut diterima dan khawatir bila tertolak.” 

Kepergiannya tidak bisa ditahan. Tapi pengaruh yang ditinggalkan begitu mendalam. Para pemenangnya (Al-Fa’izin), adalah mereka yang istiqamah melakukan amal-amal kebaikan setelah Ramadhan pergi. Pesan Allah, “Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu kematian.” (QS. 15:99).

Jangan hanya rajin beribadah dan beramal shaleh di bulan Ramadhan saja, selepasnya kembali ke rutinitas lama dalam berbuat dosa dan kemaksiatan. Dengan nada keras Bisyr Al-Hafi, mengingatkan kita, “Seburuk-buruk suatu kaum, adalah mereka yang mengenal Allah hanya di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang-orang shaleh adalah mereka yang beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh satu tahun penuh.”

Sebuah penyesalan yang sangat besar, ketika kita tidak memaksimalkan amal kebaikan setelah Ramadhan. Kata Ibnul Jauzi, ketika ditanyakan kepada orang-orang sudah diwafatkan Allah. Mareka menjawab, “Kami berangan-angan ingin dikembalikan ke dunia pada suatu hari pada bulan Ramadhan.”

Analogi bagi para pemenang Ramadhan, adalah ketika seorang Muslim yang berpuasa ibarat sebuah metamorfosa kupu-kupu. Untuk menjadi kupu-kupu, seekor ulat terlebih dahulu menjadi kepompong, yaitu sebuah proses menjalani puasa, menjauhkan dari dari makan dan minum, menutup diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia.

Selesai menjalani proses tersebut, maka lahirlah seekor kupu-yang indah, disenangi banyak orang. Padahal, keberadaannya ketika masih menjadi ulat, ia menjadi parasit bagi tumbuhan-tumbuhan lainnya. Namun setelah menjadi kupu-kupu, ia banyak memberikan manfaat bagi tumbuhan tersebut.

Pelajaran bermakna yang dapat diambil dari proses ulat, kepompong, dan menjadi kupu-kupu seperti berikut.

Pertama, orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tidak sombong). Seorang Mukmin yang berpuasa, senantiasa menebarkan kebaikan, tidak suka berbuat keonaran dan kerusakan, di mana dan kapanpun. (QS. 25:63). 

Sebagaimana sifat kupu-kupu yang hinggap di sebuah pohon, tidak pernah ada dahan atau ranting yang patah, sekecil apapun dahan atau ranting yang dihinggapinya.

Kedua, mereka yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dan shalat tahajjud di malam hari sebagai wujud syukur kepada Allah. Seperti kupu-kupu, di manapun seorang Mukmin berada, dia akan selalu melaksanakan perintah Allah, menebarkan kasih sayang, dan gemar menolong orang lain. (QS. 25:64).

Ketiga, memilih makanan, minuman, dan pakaian dari yang halal dan baik-baik saja, layaknya kupu-kupu yang hanya memilih sari madu bunga sebagai makanannya. Orang yang berpuasa dan Mukmin sejati, akan senantiasa menjauhkan diri dari sumber yang haram, seperti korupsi, mencuri, menipu, dan lainnya. (QS. 2:168).

Kini, kita sedang berada di bulan Syawal, yang bermakna bulan peningkatan kualitas diri setelah menjalani Ramadhan yang sarat dengan nilai-nilai yang mencerahkan hidup. Dalam Al-Qur’an, mencerahkan bermakna cahaya (nur, dhiya’). Maka, sebuah hidup yang mencerahkan adalah ketika seluruh pikiran, ucapan, dan perbuatan kita berada dalam bimbingan cahaya Allah.    

Seseorang yang hidupnya sudah tercerahkan, tidak mungkin menggunakan tangannya untuk maksiat, lisannya untuk menyakiti, atau matanya untuk menatap yang haram. Begitu takbir dikumandangkan pada tanggal 1 Syawal, menjadi sebuah hari yang mencerahkan (An enlightening day) bagi para pemenang Ramadhan yang mulia.

Terakhir, ketika kita merayakan ‘idul fithri, di tengah banyak orang yang sering mem-posting tentang gaya hidup flexing, glamour, bahkan tentang mempertontonkan paras diri, tetaplah kita menjadi bagian dari orang-orang yang mem-posting tentang kebaikan, nasehat mulia, dan hal-hal yang mencerahkan untuk hidup banyak orang.  

Simpulan

Sebagai pemenang Ramadhan (Al-Fa’izin), di hari yang mencerahkan ini, kita harus memposisikan semua pikiran, ucapan, dan perbuatan untuk berada dalam bimbingan cahaya Allah.  

Taqabbalallahu Minna wa Minkum …

----------------------------------------------------------------

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 1 Syawal 1447 H./20 Maret 2026 M. Pukul 12.05 WIB.

Whatsapp