INJURY TIME
Bismillaah,
INJURY TIME
Setiap wasit meniup pluit panjang, ini menjadi tanda berakhirnya sebuah pertandingan. Tanda ini yang harus ditaati oleh setiap pemain, di mana dan kapanpun.
Maknanya, sebelum seorang wasit meniup pluit panjangnya, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi. Kemenangan yang sudah di depan mata, bisa gagal gara-gara tidak waspada pada menit-menit kritis di akhir waktu pertandingan. Begitu pula sebaliknya.
Dalam Islam, amal seseorang sangat ditentukan di penghujungnya. Baik itu amal yang shaleh maupun amal yang salah, yang dilakukan di akhir umur atau akhir hayatnya. Sabda Rasulullah SAW., “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”
(HR. Bukhari).
Menurut Az-Zarqani, bahwa amalan akhir manusia itulah yang menjadi penentu, dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal buruk lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad.
Begitu pula pertolongan Allah, bisa datang kapan, di mana, dan kepada siapa saja. Bahkan seringkali ketika seorang hamba sedang berada di titik nadir, di ujung harapan, atau di persimpangan jalan. Terlintas sebuah kekecewaan, ‘dengan segala ikhtiar dilakukan, seakan tidak mungkin berhasil.’ Tapi ingat, ada kekuasaan mutlak Allah yang tidak terikat oleh tempat, waktu, atau logika manusia biasa.
Kita harus belajar dari kisah para Nabi dan Rasul terdahulu. Allah sering mendatangkan pertolongan-Nya ketika masalah sudah di detik-detik terakhir. Seperti Allah SWT. baru datangkan pertolongan-Nya ketika kondisi Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, ketika tidak ada lagi usaha yang bisa dilakukan oleh beliau. Perintah Allah, “Wahai api, jadilah dingin, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. 21: 69).
Juga bagaimana Allah menolong Nabi Musa dan pengikutnya. Ketika di depan mereka ada lautan terbentang luas dan tidak bisa lagi mundur ke belakang, karena ada Fir’aun dan pasukannya. ”Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya, sedangkan kamu sendiri menyaksikan.” (QS. 2:50).
Begitu pula ketika Allah menolong Nabi Muhammad dan Abu Bakar Siddiq di Gua Tsur. Ketika itu mereka sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap, memenjarakan, membunuh, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. 8:30).
Dan ketika para Nabi dan Rasul hampir pasrah menyerah, karena da’wah mereka mengajak manusia manusia ke jalan tauhid, belum mendapat respon positif, bahkan banyak yang berpaling ke jalan syirik. Dan apa yang terjadi? Justru pada titik-titik krusial seperti itulah, Allah datangkan pertolongan-Nya.
(QS. 12:110).
Mengapa Allah baru datangkan pertolongan-Nya dalam kondisi se-krusial itu? Tentu banyak hikmah di balik itu semua.
Pertama, Allah ingin menjaga hati kita, agar kita tidak sombong. Seperti sesumbar, “Ini karena saya, maka acara berjalan sukses.” Padahal tanpa Alllah, kita tidak punya apa-apa. Kedua, Allah ingin memaksimalkan pahala dari prosesnya. Setiap keringat, setiap lelah, setiap sabar, dan setiap do’a yang tertahan, semua dicatat dan diberi pahala kebaikan.
Ketiga, Allah ingin mengeluarkan seluruh potensi terbaik kita. Karena ikhtiar yang setengah-setengah tidak cukup untuk melahirkan manusia yang tangguh daya juangnya. Keempat, Allah ingin kita punya banyak pelajaran. Kalau langsung sukses, ilmu dan pengalamam apa yang bisa kita wariskan dan amal-jariyah-kan untuk generasi kita?.
Dan kelima, Allah tidak pernah butuh kita, tapi kita yang benar-benar merasa butuh kepada-Nya. Karena kita bukan siapa-siapa tanpa Allah. Dari rasa butuh itulah lahir iman, dan dengan iman itu yang nanti menuntun kita ke jalan surga Allah.
Ketika semua jalan terlihat buntu. Ketika akal tak menemukan cara lagi. Dan ketika do’a hanya tersisa sebagai bisikan paling lirih, di sanalah Allah menujukkan, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya.
Berapa banyak hati yang hampir menyerah, namun Allah datang mengulurkan pertolongan-Nya pada detik-detik yang terakhir (Injury time).
Simpulan
Jangan pernah berhenti memohon, meski dengan hati yang letih. Tetaplah berharap, meski jalan tertatih-tatih. Karena pertolongan Allah sering datang tepat ketika kita merasa tak mampu berdiri lagi.
Wallahul Musta’an …
-----------------------------------------------------------------
Oleh : Drs. Nur Alam, MA | Praktisi Pendidikan, Jum’at Penuh Berkah, 13 Rajab 1447 H./2 Januari 2026 M. Pukul 05.00 WIB.