Selamat datang di SMA Islam PB Soedirman 2 Bekasi

DELAY YOUR GRATIFICATION

 

DELAY YOUR GRATIFICATION

 Oleh : Nur Alam

 

Manusia bagaikan pengendara kuda liar. Di satu sisi, kuda melambangkan kekuatan. Di sisi lain, jika tak terkendali, bisa menyeretnya ke jurang kehancuran.

 

Kuda liar disimbolkan sebagai hawa nafsu, sering menjerumuskan manusia dalam perbuatan tercela. Puasa sejatinya menjadi momentum pelatihan menjinakkan kuda liar, yaitu untuk mengendalikan hawa nafsu manusia.

 

Mengapa orang yang berpuasa mampu bersabar? Karena mereka optimis dan penuh keyakinan bahwa dengan menunda kesenangannya sesaat, dengan menahan diri dari makan, minum dan syahwat seharian penuh, Allah akan memberikan pahala-Nya tanpa batas (QS. 39:10).

 

Maka, tundalah kesenanganmu (Delay your gratification) sesaat dengan cara menjalani puasa sesuai tuntunan yang syar’i, Allah akan memberikan pahala-Nya tanpa batas, tidak seperti pahala ibadah-ibadah lainnya yang sudah ditentukan balasannya. Sabda Nabi, “Puasa untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya” (HR. Muslim). 

 

Ketika berpuasa mereka sangat optimis dengan menunda lapar, karena ada kepastian adzan maghrib akan tiba. Dengan menunda kesenangan sesaat, mereka akan memperoleh dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka puasa dan ketika berjumpa dengan Allah di akhirat kelak (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Namun di luar sana, banyak saudara kita yang sedang menahan lapar, dan terpaksa memang harus lapar, tanpa tahu pasti, kapan harus berakhir menahan lapar. Banyak pula saudara kita yang sedang menahan dingin dan panas, karena memang tak ada rumah untuk berteduh dan tak cukup pakaian untuk melindungi diri dan keluarganya. Entah sampai kapan derita mereka akan berakhir.    

 

Sebuah kisah inspiratif Umar bin Khattab, beliau menangis tersedu-sedu padahal beliau terkenal gagah dan disegani lawan. Nabi bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai Umar?”. Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal engkau ini seorang Rasulullah. Sedangkan para kaisar dan raja duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

 

Rasulullah menjawab, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya di dunia yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menunda kesenangan kita sampai hari akhir. Hidup di dunia ini seperti orang yang bepergian pada musim panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

 

Ketika ada sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akhirat, Rasulullah menasihatinya, “Celupkan tanganmu ke dalam lautan, air yang ada di jari-jarimu itulah dunia, sedangkan sisanya adalah akhirat.”

 

Maka, siapapun yang tidak mampu menahan kesenangannya sesaat di dunia untuk dinikmati kelak di akhirat, sesungguhnya mereka adalah penghamba dunia. Firman Allah, “Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia. Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat’’ (QS.75:20-21).

 

Di sisi lain, Allah sangat mewanti-wanti kita untuk tidak boleh teperdaya oleh kehidupan mewah orang-orang kafir yang tujuan hidupnya hanyalah mencari kekayaan dunia semata. Seperti firman-Nya, “Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri” (QS. 3:196).

 

Karena Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya, maka mereka dihadiahkan bulan Ramadhan sebagai momentum latihan menunda kesenangan. Mereka menahan kesenangan jangka pendek berupa makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Mereka mengurangi waktu tidurnya dan menggantinya dengan shalat malam sebulan penuh. Semua ini untuk kesenangan jangka panjang di akhirat. 

 

Para Alumni Ramadhan yang mampu menunda kesenangan sesaatnya di dunia, mereka adalah orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya. Apakah mereka sebagai pemimpin, politisi, birokrat, pengusaha, guru, dosen, pegawai, karyawan dan seterusnya, mereka sudah dijamin Allah akan berbahagia hidupnya, terutama hidup di akhirat.

 

Sejatinya, tidak perlu sedih berlebihan ketika di dunia hidup menjadi orang miskin. Dan bagi orang kaya, tidak usah senang berlebihan, karena dikaruniai harta melimpah. Disebabkan hisabnya ringan, orang miskin akan lebih dulu masuk surga dibandingkan orang kaya.

 

Simpulan

 

Puasa yang tinggal sepertiganya lagi akan berakhir, harus mampu menjinakkan hawa nafsu duniawi kita, agar tidak menjadi kuda liar yang sesat dan menyesatkan.

 

Bersama Ramadhan, saatnya kita mampu mengubah diri kita dengan cara menunda kesenangan sesaat demi meraih kebahagiaan ukhrawi yang tak berujung.

Fastabiqul khairat ...

---------------------------------------------------------------

Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 19 Ramadhan 1445 H./29 Maret 2024 M. Pukul 04.20 WIB.Siswa mengerjakan soal OSN dengan semangat walaupun sedang dalam keadaan puasa ramadhan

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!