Bukan Tentang Tanah atau Api, Melainkan Siapa yang Menundukkan Hati
Adalah iblis yang mempelopori peragaan sikap sombong, ketika ia menolak perintah Allah untuk bersujud takrim kepada Adam, padahal semua malaikat melakukannya. Narasi narsis dan kesombongan yang digunakan iblis adalah: Ana khairum minhu, khalaqtanii min naari wa khalaqtahuu min thiini (Aku lebih baik darinya, karena aku diciptakan dari api sedangkan dia dari tanah). Dialog antara Allah dan iblis ini diabadikan dalam dalam QS-7:12 Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah'. Inilah esensi sifat sombong sejati yang dipraktekkan iblis: menolak kebenaran (perintah Allah) dan sekaligus merendahkan makhluk ciptaanNya (Adam)...
Rasulullah saw mendefinisikan sifat sombong dalam sabdanya: Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Dalam kehidupan sering dijumpai mereka yang menolak kebenaran ayat2 Al-Qur'an yang diturunkan Allah swt dan tuntunan sunnah yang dicontohkan Rasulullah saw, ketika keduanya tidak bersesuaian dengan selera dan dianggap berpotensi merendahkan kedudukan dan martabatnya. Dan yang lebih umum terjadi adalah mereka yang merendahkan manusia lain, tersebab merasa kedudukannya lebih tinggi dalam hal apapun: usia, kondisi fisik, pangkat, jabatan, kekayaan dan keberilmuan. Bahkan sekadar memalingkan muka dan menghina orang lain, atau merasa lebih berjasa dari pada orang lain pun sering menggelincirkan manusia dalam perilaku kesombongan. Allah swt berfirman dalam QS-31:18 Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 yang sombong lagi membanggakan diri...
Imam Adz Dzahabi berkata: Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat, maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyu' serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin lainnya serta membodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar...
Sifat sombong akan membuat seseorang terhalang atau sulit masuk surga, bahkan ia akan mendapatkan siksa yang pedih dalam neraka. Allah swt berfirman dalam QS-40:60 ... Sesungguhnya orang yang sombong sehingga tidak mau beribadah kepadaKu, mereka akan masuk jahannam dengan kondisi terhina. Rasulullah saw pun menegaskan dalam sabdanya: Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya. Dan beliau menggambarkan siksa yang akan diterima mereka yang sombong, dalam sabdanya: Pada hari kiamat orang2 yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam jahannam yang bernama Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan)...
Ada kisah menarik ketika kesombongan dapat dibenarkan dalam syariat, yaitu kesombongan yang dipertontonkan di depan pasukan musuh ketika perang, dengan maksud untuk menghinakan dan mengecilkan nyali mereka. Pada saat perang Uhud, Rasulullah saw menawarkan sebuah pedang kepada para sahabatnya: Siapa yang mau mengambil pedang ini dengan menunaikan haknya? Kemudian sahabat Abu Dujanah bertanya: Apa haknya Ya Rasulullah? Beliau menjawab: Engkau menebas leher2 musuh sampai mereka terpukul mundur. Kemudian berangkatlah Abu Dujanah, dan dia berjalan menunjukkan keangkuhannya di depan pasukan musyrikin. Melihat hal itu, Rasulullah saw berkomentar: Itu cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali jika dilakukan di tempat seperti ini...
Maka takutlah akan siksa neraka, dengan konsisten khusyu' menjalankan syariatNya, dan senantiasa tawadhu' merendahkan diri di hadapan manusia...
Penulis H. Ujang Asriwijaya