Bukan Darah, Bukan Daging: Menjemput Hakikat Ketaqwaan yang Sampai ke Langit
Nabi Ibrahim, istrinya Hajar dan anak bayinya Ismail menempuh perjalanan yang sangat jauh, panjang dan melelahkan, dari bumi Palestina menuju sebuah lembah yang tak bertuan: tidak ada manusia, tiada tetumbuhan, bahkan bangsa jin pun tak berkenan bersemayam. Setiba di Pegunungan Faran, tepatnya di lembah Bakkah yang sepi, Ibrahim dengan sangat hati2 dan berat hati akan meninggalkan Hajar dan Ismail sang bayi. Sadar akan ditinggal sendiri, Hajar pun bertanya: Wahai Ibrahim, hendak kemanakah engkau pergi? Ibrahim tak kuat menjawab pertanyaan istrinya tercinta. Pertanyaan yang sama diulang, dan Ibrahim tetap tak kuasa menjawabnya. Hajar sadar bahwa Ibrahim adalah seorang Nabi kekasih Allah, seorang pengemban risalah yang harus melanglang dunia menyebarkan dakwah. Maka pada kali ketiga Hajar bertanya ta'zhim dengan penuh cinta: Wahai Ibrahim suamiku, apakah engkau akan meninggalkan kami disini atas perintah Allah? Demi mendengar pertanyaan itu disandarkan kepada Allah, maka Ibrahim menjawab dengan mantab: Ya! Dan setelah mendengarkan jawaban dari Ibrahim, Hajar menutup pembicaraan dengan ucapan yang fenomenal: Jika ini perintah Allah, niscaya Dia tidak akan pernah menyia2kan kami...
Setelah mereka ditinggalkan, Hajar tidaklah larut dalam kesedihan dan tidak pula hanya menunggu berpangku tangan, sebaliknya dia bergerak antara bukit Shafa dan Marwa untuk menyambung kehidupan. Sementara Nabi Ibrahim pun ternyata tidak lantas membiarkan istri dan anaknya sendirian, namun kepada Allah swt semata ia memohon penjagaan. Doa beliau diabadikan dalam QS-14:37 Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya, dan berada di sisi rumah-Mu Baitullah yang dihormati. Ya Tuhan kami, demikian itu kami lakukan agar mereka melaksanakan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah2an. Mudah2an mereka bersyukur. Inilah ujian pertama kesabaran dan ketaqwaan atas keluarga Ibrahim, yang membuahkan mata air zam-zam yang mengalirkan berkahnya hingga akhir zaman; dan situs peradaban bernama Makkah al-Mukaramah yang aman dan jadi tujuan perjalanan ruhani orang2 beriman...
Ketika Ismail mulai bertumbuh dewasa, datanglah ujian kedua lewat mimpinya: Ibrahim melihat dirinya menyembelih Ismail dengan tangannya. Dalam tradisi kenabian, mimpi identik dengan wahyu Tuhan, dan Ibrahim memaknai mimpinya itu sebagai perintah yang harus dilaksanakan. Sebagai ayah yang matang pengalaman, Nabi Ibrahim tidak serta merta bertindak serampangan. Beliau memanggil anaknya untuk meminta pendapat dan persetujuan. Allah swt mengabarkan kisah mendebarkan ini secara berurutan dalam QS-37:102-108 : Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu?' Ismail menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insyaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar'.
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, untuk melaksanakan perintah Allah
Lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim!'
Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang2 yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar2 suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Kami mengabadikan untuknya pujian pada orang2 yang datang kemudian...
Sungguh inilah ujian tersulit sepanjang sejarah peradaban manusia, tetapi Nabi Ibrahim dan Ismail sukses memenuhi perintah Rabb-nya dengan penuh ketundukan taqwa. Inilah puncak ke-Islam-an seorang hamba, Islam yang bermakna paling dalam: penyerahan total kepada Allah Sang Penguasa Alam. Dan Allah swt sesungguhnya tidaklah menginginkan darah Ismail, Dia menginginkan hati Ibrahim, hati yang menyerah pasrah atas segala perintah. Dan Ibrahim memberikan sepenuhnya tanpa syarat, tanpa negosiasi, tanpa berbantah. Dari kisah epik keduanya inilah lahir perintah berkurban sebagai ajang pembuktian ketaqwaan orang2 yang beriman; dan momen berbagi dari mereka yang berkecukupan kepada dhuafa yang membutuhkan...
Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali2 tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin (QS-22:37).
Oleh : H. Ujang Asriwijaya