Selamat datang di SMA Islam PB Soedirman 2 Bekasi

MARKET AND MOSQUE

 

Bismillaah,

 

               MARKET AND MOSQUE

 

Oleh : Nur Alam

 

Ada apa dengan pasar dan masjid (market and mosque)?. Allah sangat membenci pasar-pasar dan sebaliknya, Allah sangat mencintai masjid-masjid.

 

Mengapa demikian? Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda, ”Di bumi ini, tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar” (HR. Muslim).

 

Sebenarnya masjid dan pasar, keduanya menjadi kebutuhan manusia sehari-hari, khususnya umat Islam. Masjid adalah tempat umat Islam berhubungan dengan Allah, sedangkan pasar adalah tempat interaksi dan mu’amalah antarmanusia.

 

Masaajid adalah bentuk jamak (plural) dari kata masjid. Masjid adalah kata tunggal yang menunjukkan tempat dari kata sujud. Masjid dari pengertian bahasa ini berarti tidak dimaksudkan pada tempat tertentu.

 

Mengapa pula yang dikhususkan sujud, bukan gerakan lainnya dalam shalat seperti ruku’ atau duduk? Karena sujud adalah gerakan shalat yang paling utama dan seorang sangat dekat dengan Allah ketika sujud. Itulah yang dijadikan alasan diambilnya istilah masjid dari kata sujud.

 

Kemudian, mengapa Allah membenci pasar? Sebenarnya bukan karena tempatnya, tetapi karena aktivitas orang-orang di pasar itu yang dibenci Allah. Kadang di pasar tempatnya orang curang, menipu, transaksi riba, sumpah palsu, menyalahi janji, tidak ingat Allah, dan aktivitas lainnya yang semakna. (Syarah Imam Nawawi dalam Sahih Muslim).

 

Melalui keterangan Imam Nawawi di atas, dapat dipahami bahwa masjid itu menjadi mulia karena perilaku orang di dalamnya. Demikian halnya di pasar, ia menjadi tempat yang tidak disukai Allah karena hal yang dilakukan orang-orang di dalamnya.

 

Menurut Imam Suyuthi, masjid itu mulia bukan sebab dirinya sendiri atau memang secara zat-nya sudah mulia, melainkan karena perilaku kebaikan di dalamnya seperti shalat, i’tikaf, zikir, membaca Al-Qur’an, shalawat, menuntut ilmu, membersihkan diri dan aksi sosial lainnya.

 

Bukankah Rasulullah SAW. juga sering ke pasar dan beliau juga berdagang? “Dan Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat.

(QS. 25:20).

 

Rasulullah SAW, tidak sepenuhnya membenci pasar, karena beliau sendiri seorang pedagang yang sukses. Baginya, jual beli adalah profesi yang halal dan mulia. Bahkan karena kegiatan di pasar itulah Nabi Muhammad SAW. menemukan jodohnya dengan Siti Khadijah.

 

Seorang sahabat beliau pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, mata pencaharian apa yang paling baik?" Rasulullah menjawab, "Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur atau diberkahi"

(HR. Ahmad)

 

Meski di pasar banyak hal yang merugikan, seperti tipu-tipu, janji palsu, riba, bertengkar, pamer aurat dan lain sebagainya, tapi ketika seseorang yang beraktivitas di pasar, kemudian dalam praktiknya sesuai syari'at, pasti pahalanya berlipat ganda.

 

Sebaliknya, ketika seseorang melakukan kemaksiatan di masjid, seperti menipu, mencuri, berdusta, menghasut, konspirasi jahat, ghibah, ingkar janji, takabbur, riya’, ‘ujub, sum’ah, pastilah dosanya berlipat-lipat pula.  

 

Ketika amalan masjid dibawa ke rumah, rumah menjadi mulia. Ketika dibawa ke kantor, kantor menjadi mulia. Maka, masjidkan rumah tangga kita, pasar kita, sekolah kita dan tempat kerja kita. Terus masjidkan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Negara kita, bahkan dunia ini. Inilah aktivitas yang sangat dicintai Alah dan Rasul-Nya.

 

Lebih tegas, Umar bin Khattab sangat mewanti-wanti, "Barang siapa yang tidak belajar fiqih dan tidak mengerti mu'amalah, maka jangan bertransaksi di pasar, karena nanti membawa hal-hal yang sangat dibenci Allah."

 

Simpulan

 

Sebaiknya, jangan menjadi orang yang pertama kali masuk dan yang terakhir keluar pasar. Di sana syetan berkumpul dan menancapkan benderanya.

 

Sebaliknya, akrabkan diri dan keluarga kita dengan masjid, di sanalah dicurahkan rahmat dan hidayah Allah.

Fastabiqul khairat ...

-----------------------------------------------------------------

Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 27 Jumadil Akhir 1444 H./20 Januari 2023 M. Pukul 05.07 WIB.

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!